Asia Tenggara saat ini tengah dilanda gelombang panas yang luar biasa. Suhu di beberapa negara menembus angka 40 derajat Celcius, bahkan di Thailand mencapai 43.5 derajat Celcius, rekor tertinggi dalam sejarah! Fenomena ini bukan hanya membuat gerah, tetapi juga membawa dampak serius bagi kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.

Apa Saja Penyebab Gelombang Panas?

Penyebab utama gelombang panas di Asia Tenggara adalah kombinasi antara fenomena La Niña dan perubahan iklim. La Niña, pola cuaca di Samudra Pasifik, menyebabkan angin muson berkurang dan curah hujan minim di wilayah Asia Tenggara. Hal ini mengakibatkan langit cerah dan panas terik tanpa awan yang meneduhkan.

Perubahan iklim pun memperparah situasi. Gas rumah kaca yang terperangkap di atmosfer bumi meningkatkan suhu global, termasuk di Asia Tenggara. Dampaknya, gelombang panas menjadi lebih sering, intens, dan berkepanjangan.

Negara-negara yang terkena dampak gelombang panas ini termasuk Indonesia. Di Indonesia, misalnya, suhu telah melampaui rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, mengakibatkan kebakaran hutan yang merusak dan pencemaran udara yang parah.

Gelombang panas ini melanda berbagai negara di Asia Tenggara, di antaranya:

  • Thailand: Suhu di Bangkok mencapai 43.5 derajat Celcius, rekor tertinggi sepanjang masa.
  • Filipina: Suhu di beberapa wilayah mencapai 45 derajat Celcius, menyebabkan kekhawatiran akan krisis air.
  • Vietnam: Suhu di Hanoi mencapai 42 derajat Celcius, memicu peringatan kesehatan.
  • Laos: Suhu di Vientiane mencapai 41 derajat Celcius, mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Kamboja: Suhu di Phnom Penh mencapai 40 derajat Celcius, berdampak pada sektor pertanian.
  • Indonesia: Suhu di beberapa wilayah di Jawa dan Nusa Tenggara mencapai 40 derajat Celcius.